Jurnal/Buletin/Prosiding
Vol 17 No 2. 2020 Journal Penelitian Pascapanen Pertanian (Indonesian Journal of Agricultural Postharvest Research)

  135
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian (J. Pascapanen) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian pascapanen pertanian. Jurnal ini diterbitkan secara periodik dua kali dalam setahun oleh Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

STUDI PENERAPAN STANDARD OPERATING PROCEDURE PASCAPANEN TOMAT DAN PERMASALAHAN YANG DIHADAPI AKTOR DI SEPANJANG RANTAI PASOK

Laras Putri Wigati, Sutrisno Suro Mardjan, Emmy Darmawati

Abstract


Penanganan pascapanen adalah hal penting yang perlu diperhatikan oleh seluruh aktor di suatu rantai pasok hingga sampai ke tangan konsumen. Evaluasi penerapan penanganan pascapanen sesuai standard operating procedure (SOP) perlu dilakukan agar dapat menemukan pada tahap-tahap mana saja yang perlu diperbaiki sehingga mutu produk lebih dapat terjaga. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi penanganan dan penerapan SOP pascapanen tomat, serta mengidentifikasi permasalahan penanganan pascapanen tomat yang dihadapi oleh aktor. Aktor yang terlibat pada rantai pasok adalah petani, pengepul, pedagang eceran dan konsumen. Metode pemilihan responden awal menggunakan purposive sampling yakni pemilihan petani di Desa Perbawati, Sukabumi dan dibedakan menjadi tiga tipe petani berdasarkan luas lahan yang dimiliki. Pemilihan responden selanjutnya menggunakan metode snowball sampling hingga responden akhir yakni konsumen. Penerapan SOP diperoleh dari wawancara dan observasi lapang. Parameter yang digunakan adalah membandingkan penanganan pascapanen yang dilakukan oleh aktor dan dibandingkan dengan SOP yang telah disusun oleh Direktorat Budidaya dan Pascapanen Sayuran dan Tanaman Obat, Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian dan dilakukan perhitungan persentase kesesuaian dan upaya perbaikan yang diperlukan. Pada penelitian ini didapatkan kesesuaian penerapan SOP sebesar 54,44% dan diperlukan perbaikan sebesar 45,56%. Hal ini menunjukkan kesesuaian antara SOP dan pelaksanaan di lapang pada tingkat petani, pengepul, maupun pedagang eceran kondisi lingkungan panas menjadikan produk terpapar sinar matahari secara langsung serta kebersihan yang kurang dijaga membuat kualitas produk mudah menurun.

 

Study Implementation of Standard Operating Procedure on Post-Harvest Tomato and Problems Faced by Actors in the Supply Chain.

Postharvest handling is an important part that needs to be considered by actors in a supply chain until it reaches consumers. Evaluation of the implementation of postharvest handling according to the standard operating procedure (SOP) needs to be done to be able to find at what stages need to be improved so the product quality can be maintained well. This study aimed to identify the handling and the SOP implementation postharvest tomatoes, also identify the problems of handling postharvest tomatoes faced by the actors. The actors involved in the supply chain are farmers, collectors, retailers, and consumers. The first actors as respondents selected by the purposive sampling method were farmers in Perbawati Village, Sukabumi, and divided into three types of farmers based on the area of land they have. The next respondents selected by the snowball sampling method to the consumer as final respondents. The application of SOP obtained from interviews and real observations. The parameters used were comparing postharvest handling carried out by the actors and compared with SOP that has been published by the Directorate of Vegetable and Postharvest Cultivation and Medicinal Plants, Directorate General of Horticulture, Ministry of Agriculture and calculating the percentage of suitability and the percentage of improvement needed. In this study, the suitability of SOP implementation was 54.44% and 45.56% improvement was needed. These results showed the compatibility between the SOP and the implementation in the field at the level of farmers, collectors, and retail that high temperature of environmental conditions made the product exposed to direct sunlight and low maintained hygiene made the quality of the product easy to decrease.

Keywords


aktor; pascapanen; penanganan; tomat; actor; handling; post-harvest; sop; tomato.

Full Text:

PDF


DOI: http://dx.doi.org/10.21082/jpasca.v17n2.2020.68-76


APLIKASI PELAPISAN NANOKOMPSIT UNTUK MEMPERTAHANKAN KUALITAS SALAK PONDOH (SALACCA EDULIS RENIW)

Setyadi Gumaran, nFN Sutrisno, Evi Savitri Iriani

Abstract


Pelapisan nanokomposit dapat meningkatkan karakteristik fisik, mekanis serta fungsional dari bahan pelapis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelapisan nanokomposit dengan berbagai polimer (gelatin dan kitosan) yang ditambahkan seng oksida dan beeswax untuk menjaga kualitas salak pondoh selama penyimpanan. Hasilnya menunjukkan bahwa penambahan emulsi beeswax dan NP-ZnO dapat menurunkan nilai WVTR dari 25.6 menjadi 13.75 g/m2jam. Penambahahan beeswax dan NP-ZnO juga dapat merubah sifat antimikroba film kitosan dan gelatin. Aplikasi nanokomposit mampu menurunkan kehilangan berat salak pondoh selama penyimpanan dibandingkan dengan kontrol salak pondoh (P <0,05). Kontrol salak memiliki nilai penurunan susut bobot tertinggi sebesar 18,57% sedangkan salak dengan perlakuan WC3 dan WG3 memiliki nilai 12,72% dan 13,92%, persentase kerusakan  sebesar 76,19%  pada hari ke 28 penyimpanan. Aplikasi pelapisan nanokomposit juga mampu mempertahankan kekerasan dan persen tingkat kerusakan selama penyimpanan.

 

Application of nanocomposite based on Chitosan and Gelatin to maintain quality of Salacca fruit. (Salacca edulis Reniw).

Nanocomposite coating could enhance the physical and mechanical characteristic as well as functional of material coatings. This research aimed to determine the application of nanocomposite coating with various polymers (gelatin and chitosan) which added zinc oxide and beeswax to maintain the quality of salak pondoh during storage. The result showed that the addition of beeswax emulsion and ZnO-NPs significantly decreased WVTR value from  25.6 to 13.75 g/m2 hours. The addition of beeswax emulsion and ZnO-NPs also changed the antimicrobial properties of chitosan and gelatin films Aplication of nanocomposite coating was able to decrease the weight loss of salak pondoh during storage compared to salak pondoh control (P <0.05). Salak control has the largest weight loss value of 18.57% while salak with WC3 and WG3 treatment has a value of 12.72% and 13.92%, percentage of decai has value 76.19% on 28 days storage. Application of nanocomposite coating are also able to maintain quality such as firmness and percentage of decay during storage.

Keywords


buah salak; kitosan; film nanokomposit; seng oksida; salacca fruit; beeswax; chitosan; gelatin; nanocomposite film; zinc oxide

Full Text:

PDF


DOI: http://dx.doi.org/10.21082/jpasca.v17n2.2020.77-87


PENGUKURAN TINGKAT KEMATANGAN BUAH PISANG CAVENDISH BERDASARKAN REFLEKTANSI CAHAYA LED

Eko Kuncoro Pramono

Abstract


Penentuan tingkat kematangan buah pisang cavendish biasanya dilakukan secara manual dengan membandingkan warna kulit buah pisang dengan bagan warna standar. Hal ini mempunyai kekurangan yaitu tidak konsisten dan sangat subyektif tergantung dari keahlian operator. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan hasil pengukuran tingkat kematangan buah pisang cavendish yang lebih akurat, mudah dan tidak merusak (non destruktif). Pengukuran kematangan buah pisang dilakukan berdasarkan faktor reflektansi cahaya, yaitu cahaya hijau (500-560 nm), jingga (580-610 nm), dan merah (600-650 nm) yang diperoleh dari LED. Sebuah spektrofotometer pada rentang spektrum 350-700 nm digunakan sebagai pembanding dalam penelitian ini, dengan sumber cahaya berasal dari lampu halogen untuk dapat memenuhi rentang panjang gelombang pada spektrofotometer. Hasil terbaik didapatkan dari pengukuran nilai reflektansi dengan cahaya merah (600-650 nm), dimana didapatkan nilai reflektansi sebesar 30%-39%, 39%-49%, 49%-59%, 59%-67% dan di atas 67% untuk tingkat kematangan 2,3,4,5 dan 6. Pengujian dengan menggunakan 71 sampel pada tingkat kematangan 2 sampai dengan 6 menghasilkan pengukuran 55 benar (77%), 11 kurang matang satu tingkat (16%) dan 5 lebih matang satu tingkat (7%). Sistem pemindaian (scanning) pada seluruh permukaan kulit pisang atau penggunaan citra kamera digital juga dapat dilakukan untuk meningkatkan akurasi hasil pengukuran.

 

Measurement of Cavendish Banana Ripeness Stage Based on LED Light Reflectance

The determination of the ripeness stage of cavendish bananas is usually done manually by comparing banana peels with a standard color chart. This has the disadvantage of being inconsistent and very subjective depending on the expertise of the operator. This research was conducted to obtain the results of the measurement of the ripeness stage of cavendish banana which is more accurate, easy and not destructive. The ripeness stage measurement of banana was based on the light reflectance factor, which were green light (500-560 nm), orange (580-610 nm), and red (600-650 nm) obtained from the LEDs. A spectrophotometer in the spectrum range 350-700 nm was used as a comparison in this study, with light sources coming from halogen lamps to be able to meet the wavelength range of the spectrophotometer. The best results were obtained from the measurement of reflectance values with red light, where the reflectance values were 30%-39%, 39%-49%, 49%-59%, 59%-67% and above 67% for the maturity level of 2, 3 , 4, 5 and 6. Testing using 71 samples at maturity level 2 to 6 resulted in a prediction of 55 correct (77%), 11 less mature one level (16%) and 5 more mature one level (7%). A scanning system on the entire surface of a banana peel or the using image of digital camera can also be done to improve the accuracy of the measurement results.

Keywords


pisang cavendish; pengukuran tingkat kematangan; reflektansi; spektrofotometer; cavendish banana; ripeness stage prediction; reflectance; spectrophotometer.

Full Text:

PDF


DOI: http://dx.doi.org/10.21082/jpasca.v17n2.2020.88-94


FORMULASI, KARAKTERISASI, DAN OPTIMASI WAKTU REHIDRASI PRODUK NASI KUNING INSTAN

Sri Widowati, Nur Asni, Farida Nuraeni

Abstract


Nasi kuning instan menjadi salah satu alternatif menu sarapan pagi karena memiliki waktu penyajian yang singkat. Tujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan formula terbaik produk nasi kuning instan dengan waktu rehidrasi yang optimum dan menentukan karakteristik fisikokimia produk nasi kuning instan. Faktor yang diuji adalah formulasi bumbu (kontrol dengan menggunakan bumbu instan, formula A menggunakan 1 paket bumbu nasi kuning, formula B menggunakan 1,25 paket bumbu nasi kuning dan formula C menggunakan 1,50 paket bumbu nasi kuning) dan kadar amilosa beras (rendah, sedang dan tinggi). Hasil uji analisis one way anova menunjukkan bahwa antara formulasi dan kadar amilosa beras berbeda secara nyata dari karakteristik fisikokimia nasi kuning instan (p<0,05). Formula dan nasi kuning instan yang terpilih adalah formula 1,25 paket bumbu nasi kuning dari beras Sintanur dengan kadar amilosa rendah adalah waktu rehidrasi 4,59 menit, rendemen 90,23%, volume pengembangan 30,89%, daya serap air 49,68%, densitas kamba 0,62 g/mL, nilai °Hue diatas 90%, dan nilai kekerasan 74,03%. Produk ini mengandung kadar air 8,07%, abu 3,35%, protein 9,19%, lemak 2,08%, karbohidrat 76,32%, dan kadar pati 64,11 %.

 

Formulation, Characterization, and Optimization of the Rehydration of Yellow Rice Instant.

Instant yellow rice is an alternative to breakfast because it has a short testing time. The purpose of this study was to produce the best formula for instant yellow rice products with optimum rehydration time and determine the physicochemical characteristics of instant yellow rice products. Factors tested were seasoning formulations (control using instant seasoning, formula A using 1 package of yellow rice seasoning, formula B using 1,25 package of yellow rice seasoning and formula C using 1,50 packages of yellow rice seasoning) and amylose content of rice (low, medium and high). One way ANOVA analysis results showed that between the formulation and amylose content of rice was significantly different from the physicochemical characteristics of instant yellow rice (p <0,05). The formula and instant yellow rice selected were formula 1,25 package of yellow rice seasoning from Sintanur rice with low amylose content, rehydration time 4,59 minutes, yield 90,23%, development volume 30,89%, water absorption 49,68%, kamba density 0,62 g/mL , the ° Hue value is above 90%, and the hardness value is 74,03%. This product contains 8,07% water content, 3,35% ash, 9,19% protein, 2,08% fat, 76,32% carbohydrate, and 64,11% starch content.

Keywords


Nasi Kuning Instan; Amilosa; Formulasi; Karakterisasi; Instant Yellow Rice; Amylose; Formulation; Characterization.

Full Text:

PDF


DOI: http://dx.doi.org/10.21082/jpasca.v17n2.2020.95-107


KANDUNGAN NUTRISI DAN KUALITAS SENSORIS PRODUK MINUMAN SEREAL SARAPAN BERBASIS FLAKES JAGUNG, JALI, DAN SORGUM

Indrie Ambarsari, Retno Endrasari, Restu Hidayah

Abstract


Produk sereal sarapan menjadi salah satu pilihan tepat untuk memenuhi kebutuhan sarapan masyarakat modern yang ingin serba cepat dan praktis.  Sayangnya, sebagian besar produk sereal sarapan yang tersedia di pasaran terbuat dari bahan-bahan impor yang sulit dikembangkan di Indonesia.  Jagung, jali, dan sorgum merupakan komoditas serealia lokal yang sangat potensial untuk dikembangkan sebagai bahan baku produk sereal sarapan.  Kajian ini dilakukan untuk mengetahui kandungan nutrisi dan sifat sensoris dari produk sereal sarapan yang dikembangkan dari komoditas serealia lokal, serta memperoleh informasi terkait jenis serealia yang paling tepat untuk digunakan sebagai bahan baku produk sereal sarapan.  Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan empat taraf perlakuan, yaitu: sereal sarapan jagung, sereal sarapan jali, sereal sarapan sorgum utuh, dan sereal sarapan gandum sebagai kontrol perlakuan.  Masing-masing perlakuan mendapatkan empat kali ulangan.  Dalam rangka meningkatkan kualitas produk akhir maka proses produksi sereal sarapan melibatkan proses fermentasi sereal.  Variabel yang diamati meliputi kadar air, protein, lemak, karbohidrat, energi total, serat pangan, dan tingkat kesukaan berdasarkan uji sensoris.  Data hasil pengujian dianalisis dengan menggunakan one way ANOVA pada taraf signifikansi 5% dan apabila terdapat perbedaan maka dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test.  Hasil kajian menunjukkan bahwa serealia lokal seperti sorgum, jagung dan jali sesuai untuk dikembangkan sebagai bahan baku produk sereal sarapan.  Produk sereal sarapan berbahan baku tepung sorgum terfermentasi menghasilkan produk akhir dengan kandungan gizi tertinggi, yaitu kandungan protein 11,31 %, lemak 7,12 %, karbohidrat 78,61 %, energi total 230,14 kkal/100 g, dan serat pangan total 27,23 %.  Meskipun demikian, karakteristik sensoris sereal sarapan sorgum, khususnya menyangkut warna dan tekstur, masih perlu ditingkatkan.

 

Nutritional and Sensory Quality of Breakfast Cereal Based-on Corn, Coix, and Sorghum Flakes

Breakfast cereal could be the right choice to fulfill modern society's breakfast needs that prioritize the practicality and quickness.  Unfortunately, the breakfast cereals available in the market are generally made from imported materials that were difficult to cultivate in Indonesia.  Corn, coix, and sorghum are local Indonesian cereals that could be developed as a raw material for breakfast cereals.  This study was performed to evaluate the nutritional and sensory properties of breakfast cereals made from local Indonesian cereals, as well as to determine the most suitable raw material of breakfast cereals.  The experimental design used was a completely randomized design with four-level treatments, i.e., corn-based product, sorghum-based product, coix-based product, and wheat-based product as a control treatment, with four replication for each treatment.  In order to optimize the quality of end-products, fermentation was applied in the production process.  The variables observed included moisture content, protein, lipid, carbohydrate, total energy, dietary fiber, and preference level based on sensory analysis.  The data were analyzed using one-way ANOVA with a significance level of 5%, and if there were a significant difference between treatments, it would be continued with the Duncan Multiple Range Test.  The results showed that local cereals such as sorghum, corn, and coix are suitable to be developed as raw material for breakfast cereals.  Breakfast cereal based on fermented sorghum flour has the highest nutritional values among the cereals sample, precisely 11.31% protein, 7.12% lipid, 78.61% carbohydrate, 230 kcal/100g total energy, and 27.23% dietary fiber.  However, sorghum breakfast cereals' sensory characteristics still needed to be improved, especially for its color and texture.

Keywords


flakes; sereal sarapan; jagung; jali; sorgum; breakfast cereal; corn; coix; sorghum.

Full Text:

PDF


DOI: http://dx.doi.org/10.21082/jpasca.v17n2.2020.108-116


PENGARUH SUHU DAN LAMA PEMANASAN SAAT PROSES BLANSING TERHADAP SIFAT KIMIA, FISIKOKIMIA DAN FISIK TEPUNG UBI KAYU

Ayu Dian Pratiwi P, Siti Nurdjanah, Tanto Pratondo Utomo

Abstract


Pengolahan ubi kayu segar menjadi tepung merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi sifat fisiologis ubi kayu yang mempunyai umur simpan yang relatif singkat. Akan tetapi, pada umumnya tepung ubi kayu yang diproses secara tradisional dari gaplek memiliki beberapa kelemahan. Kelemahan ini antara lain kurang mengembang pada tingkat proporsi yang tinggi, tekstur produk relatif keras, serta aroma apek (musty) ubi kayu kering yang terbentuk karena reaksi lanjut dari proses kerusakan fisiologi pasca panen saat penjemuran gaplek. Komponen aroma musty ini sering kali masih terbawa ketika diaplikasikan pada produk olahannya. Upaya untuk memperbaiki kualitas tepung umbi-umbian telah banyak dilakukan termasuk penggunaan panas. Blansing dalam air panas telah dilaporkan dapat memperbaiki kualitas produk kering berbasis hortikultur. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi pengaruh perbedaan suhu dan lama blansing dalam terhadap sifat fisikokimia dan morfologi granula tepung ubi kayu. Metode blansing menggunakan air panas bersuhu 50C, 55C dan 60? selama 5 menit, 7,5 menit dan 10 menit sebelum pegeringan dan penepungan. Hasil penelitian menunjukkan suhu dan lama pemanasan berpengaruh terhadap sifat fisikokimia tepung ubi kayu. Semakin tinggi suhu dan semakin lama pemanasan menyebabkan penurunan kadar air, kadar abu, kadar amilosa, meningkatkan kelarutan dan swelling power, serta menyebabkan perubahan morfologi granula atau butiran tepung.

 

Effect of Temperature and Heating Time During Blanching Process on Physicochemical and Morfologi Properties of Cassava Flour

Processing of fresh cassava into flour is one alternative to overcome the physiological properties of cassava which has a relatively short shelf life. However, in general, traditionally processed cassava flour has several disadvantages such as low dough development, less acceptable texture and flavor when used as main material in bakery products, as well as other food products. Many efforts to improve the quality of cassava flour have been carried out, including the use of heat treatments. Hot water pretreatment has been reported to be beneficial for improving quality of dried horticulture commodities. The purpose of this study was to evaluate the effect of temperature and length of blanching on physicochemical properties of cassava flour. The method was carried out by blanching cassava chip in hot water at 50C, 55C and 60? for 5,7,5 and 10 minutes before drying and milling. The results showed the temperature and duration of heating affected the physicochemical properties and granular morphology of cassava flour. The higher the temperature and the longer the blanching cause a decrease in water content, ash content, amylose content, increase solubility, increase swelling power, and slightly changed the granular structures.

Keywords


amilosa; blansing; tepung ubi kayu; amylose; cassava flour; hot water treatment.

Full Text:

PDF


DOI: http://dx.doi.org/10.21082/jpasca.v17n2.2020.117-125
      Whatsapp