Jurnal/Buletin/Prosiding
Vol 17 No 1. 2020 Journal Penelitian Pascapanen Pertanian (Indonesian Journal of Agricultural Postharvest Research)

  164
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian (J. Pascapanen) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian pascapanen pertanian. Jurnal ini diterbitkan secara periodik dua kali dalam setahun oleh Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

KARAKTERISASI SIFAT FISIKOKIMIA, SENSORI, DAN FUNGSIONAL NASI INSTAN DARI BERAS AMILOSA RENDAH

kirana sanggrami sasmitaloka, Sri Widowati, Ermi Sukasih

Abstract


Gaya hidup masyarakat di zaman modern dituntut untuk bergerak cepat termasuk dalam menyiapkan makanan. Oleh karena itu, perlu dicari alternatif proses untuk mempercepat pengolahan beras dengan tetap mempertahankan nilai gizinya. Beras amilosa rendah memerlukan waktu pemasakan yang cepat dengan tekstur yang pulen sehingga cocok digunakan sebagai bahan baku nasi instan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari karakteristik fisikokimia, sensori, dan fungsionalnya nasi instan dari beras amilosa rendah. Bahan baku yang digunakan adalah beras Sintanur. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap pola faktorial dengan perlakuan suhu pembekuan (-4oC dan -20oC) dan waktu pembekuan (12, 18, dan 24 jam), diulang empat kali. Proses produksi nasi instan menggunakan beras kadar amilosa rendah terdiri dari perendaman dalam larutan natrium sitrat 5% (1:2), pencucian, pengaronan, pemasakan menggunakan rice cooker, pendinginan pada suhu -20oC selama 24 jam, thawing, dan pengeringan. Hasil analisa ragam (ANOVA) menunjukkan bahwa suhu pembekuan, waktu pembekuan, dan interaksi keduanya berpengaruh nyata terhadap karakteristik fisikokimia dan fungsional. Nasi instan memiliki karakteristik waktu rehidrasi 3,19 menit, densitas kamba 0,50 g/ml, rendemen 96,80%, daya serap air 48,73% dan volume pengembangan 154,99%. Nasi instan mengandung kadar air 12,39%, kadar abu 0,67% (bk), kadar lemak 0,18% (bk), kadar protein 0,88% (bk), kadar karbohidrat 90,28% (bk), kadar amilosa 17,28%, dan daya cerna pati 62,37%. Hasil uji sensori menunjukkan bahwa berdasarkan uji kruskal-wallis (p>5%) panelis menyukai warna, rasa, tekstur, aroma, dan penampakan nasi instan pada perlakuan pembekuan suhu -20oC selama 24 jam.

 

Characterization of Physicochemical, sensory, and fungtional Properties of instant rice from low amylose rice.

In the modern lifestyle people are required to move quickly, including in preparing food. Therefore, alternative processes should be sought to accelerate rice processing while maintaining its nutritional value. This research aimed to produce instant rice using low amylose content with their physicochemical, sensory, and functional characteristics. Raw material used was Sintanur rice. The experiment was conducted in complete randomized design of factorial with treatments of freezing temperature (-20 and -4oC) and duration (12, 18, and 24 hour), with four replications. The results of analysis of variance (ANOVA) showed that between freezing temperature and duration were significantly different of their physicochemical and functional characteristics (p<0.05). Instant rice production process using low amylose rice consist of soaking in 5% sodium citrate solution (1: 2), washing, staining, cooking using a rice cooker, freezing at -20oC for 24 hours, thawing, and drying. Characteristics of instant rice produced were rehydration time of 3.19 minutes, bulk density of 0,50 g/ml, yield of 96,80%, water absorption of 48,73%, and volume expansion of 154,99%. This product contained of 12,39% moisture, 0,67% ash (db), 0,18% fat (db), 0,88% protein (db), 90,28% carbohydrate (db), 17,28 amylose, and 62,37% starch digestibility.  Sensory test results showed that the panelists liked the color, taste, texture, aroma, and appearance of instant rice.

Keywords


Nasi instan; proses instanisasi; fisikokimia; sensori; fungsional; Instant rice; instanization process; physicochemical; sensory; functional.

Full Text:

PDF


DOI: http://dx.doi.org/10.21082/jpasca.v17n1.2020.1-14



MUTU STARTER KERING YOGHURT PROBIOTIK DI BERBAGAI SUHU SELAMA PENYIMPANAN

nFN Miskiyah, nFN Juniawati, Lisha Yuanita

Abstract


Penentuan masa simpan starter kering yoghurt probiotik bermanfaat untuk mengetahui kondisi penyimpanan yang optimal bagi starter kering. Mutu starter kering yang diuji meliputi total bakteri asam laktat/BAL, kadar air dan nilai a . Mutu yoghurt yang diuji meliputi total BAL, pH, total asam tertitrasi, kadar protein dan mutu organoleptik. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen Rancangan Acak Lengkap pola Faktorial (RALF). Hasil penelitian menunjukkan suhu dan waktu penyimpanan starter kering pada suhu freezer (-200C) lebih baik dibandingkan penyimpanan pada suhu refrigerator (5°C) maupun pada suhu ruang (27°C). Pada penyimpanan suhu freezer selama 8 minggu menunjukkan viabilitas sel starter kering 6,24 log CFU/g, dengan jumlah total BAL pada yoghurt probiotik hasil rehidrasi 11,52 log CFU/mL, Kadar air 4,71%, pH 4,66, Total asam tertitrasi (TAT) 1,56 dan kadar protein 5,68%. Penyimpanan starter di freezer menghasilkan yoghurt probiotik yang secara organoleptik (tekstur, aroma, rasa, konsistensi dan warna) lebih disukai dibandingkan dengan disimpan dalam refrigerator dan suhu ruang.

 

Quality Of Dry Starter Of Probiotic Yoghurt At Different Temperature During Storage

Shelf life determination of probiotic yogurt dry starter is useful to obtain the optimal storage conditions for dry starter. The quality of dry starter tested included total lactic acid bacteria/LAB, water content, and Aw value). The quality of the dry starter included total LAB, pH, total titratable acid, protein content, and organoleptic quality. This research used completely randomized factorial design experimental method with two factors. Result showed that temperature and storage time of the dry starter at freezer (-200C) better than storage at refrigerator temperature (5°C) and at room temperature (27°C). The storage temperature of freezer for 8 weeks showed the viability of dry starter cell 6.24 log CFU/g, with total amount of LAB on rehydrated probiotic yogurt 11.52 log CFU/mL, 4.71% water content, pH 4.66, Total titratable acid (TAT) 1.56 and protein content 5.68%. Storage of the starter in freezer produces probiotic yogurt which organoleptically (texture, aroma, taste, consistency and color) were preferred compared to stored in a refrigerator and room temperature.

Keywords


Mutu; Starter Kering; Suhu Penyimpanan; Yoghurt Probiotik; quality; dry starter; probiotic yoghurt; storage temperature.

Full Text:

PDF


DOI: http://dx.doi.org/10.21082/jpasca.v17n1.2020.15-23



KARAKTERISTIK FISIK SHORTENING HASIL INTERESTERIFIKASI KIMIAWI CAMPURAN TERNER MINYAK BIJI KARET, MINYAK IKAN NILA, DAN PALM STEARIN

nFN Sumartini, nFN Supriyanto, Pudji Hastuti

Abstract


Shortening merupakan produk olahan lemak dan minyak yang berfungsi sebagai pembentuk pori dan pelembut pada pembuatan roti. Shortening diproduksi dari campuran stearin sawit (PS), minyak biji karet (RSO) dan minyak ikan (FO), pencampuran fraksi padat dan cair dilakukan dengan tujuan mendapatkan titik leleh dan konsistensi yang diinginkan sesuai dengan shortening komersial. Rancangan percobaan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) menggunakan sepuluh campuran terner lemak dengan rasio dan metode berbeda, masing-masing PS / RSO/ FO (50/30/20, 60/35/5, 70/15/15, 80/10/10 dan 90/5/5) (% bb) dengan metode blending/non interesterification (NIE) dan interesterifikasi kimiawi/ chemical interesterification (CIE). Setiap perlakuan dilakukan ulangan sebanyak 3 kali. Karakteristik fisik lemak yang diuji meliputi, titik leleh, indeks total padatan lemak, komposisi asam lemak, warna, dan tekstur. Seluruh hasil analisa dari semua campuran dilakukan uji statistik menggunakan software SPSS versi 22. Hasil uji statistik menunjukkan perbedaan rasio dan metode yang digunakan secara signifikan berbeda nyata (P<0,05). Campuran interesterifikasi kimiawi dengan rasio (CIE) 80/10/10 dan 90/5/5 merupakan perlakuan yang menghasilkan sifat fisik yang paling mendekati shortening komersial dengan karakteristik meliputi slip melting point pada kisaran (40,38-42,54°C), titik leleh (47,33-50,46°C), indeks kepadatan lemak (17,92-31,63%), kecerahan (86,01-87,64), tekstur (421,75-872,25 gf/cm2).

 

PhysicaCharacteristics Of Shortening Results Of Chemical Interesterifications On Terner Mixed Seed Oil Rubber, Oil Fish, And Palm Stearin

Shortening is produced from a mixture of palm stearin (PS), rubber seed oil (RSO) and fish oil (FO). The experimental design used ten fat ternary mixtures with different ratios and methods, each PS / RSO / FO (50/30/20, 60/35/5, 70/15/15, 80/10/10 and 90 / 5/5) (% bb) with blending (NIE) and chemical interesterification (CIE) methods. The physical characteristics of the fat tested include, melting point, total solid fat index, fatty acid composition, color, and texture. The experimental design used was a randomized block design. All analysis results of all mixtures were carried out using a SPSS version 22 statistical test. The statistical test results showed that the ratio and method used were significantly different (P <0.05). Chemical interesterification mixture with a ratio (CIE) 80/10/10 and 90/5/5 is the treatment that produces the physical properties that are closest to commercial shortening with characteristics including slip melting point in the range of (40.38-42.54 ° C), melting point (47.33-50.46 ° C), solid fat index (17.92-31.63%), Lightness (86.01-87.64), texture (421.75-872.25 gf / cm2).

Keywords


biji karet; minyak ikan; stearin sawit; interesterifikasi; shortening; rubber seed; fish oil; palm stearin; interesterification.

Full Text:

PDF


DOI: http://dx.doi.org/10.21082/jpasca.v17n1.2020.24-36


KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA DAN ORGANOLEPTIK KACANG HIJAU INSTAN DENGAN TEKNOLOGI PEMBEKUAN

Ermi Sukasih, Kirana Sanggrami Sasmitaloka, Sri Widowati

Abstract


Kacang hijau memiliki tekstur yang sangat keras sehingga membutuhkan waktu pemasakan yang cukup lama. Kacang hijau instan diharapkan dapat menjadi solusi karena mampu mengurangi waktu rehidrasi menjadi lebih singkat. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan suhu dan waktu pembekuan yang tepat untuk menghasilkan kacang hijau instan yang baik. Penelitian terdiri dari dua tahap, tahap pertama untuk menentukan lama perendaman dan waktu pemasakan yang optimal, sedangkan tahap kedua adalah untuk mengetahui pengaruh suhu dan waktu pembekuan terhadap karakteristik fisiko kimia kacang hijau instan. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) non faktorial, dengan dua perlakuan, yaitu suhu pembekuan (-4,-12, dan -20°C) dan lama pembekuan (8, 16, dan 24 jam) dengan tiga kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses optimal dalam produksi kacang hijau instan yaitu perendaman dengan sodium sitrat 5% selama 3 jam dengan waktu pemasakan menggunakan panci bertekanan (10,29 Psi, 110°C), selama 3 menit. Suhu dan waktu pembekuan berpengaruh nyata terhadap tekstur, jumlah biji pecah, waktu rehidrasi, kadar air, protein dan karbohidrat pada selang kepercayaan 5%, sedangkan terhadap densitas kamba dan kadar abu tidak signifikan. Kacang hijau instan terbaik adalah dengan suhu pembekuan -4°C, selama 24 jam. Kacang hijau instan ini memiliki karakteristik waktu rehidrasi 7,4 menit, jumlah biji pecah 10,47%, hardness 125,3 g/f dan densitas kamba 0,68 g/ml. Kacang hijau instan ini memiliki kadar air 6,67%, kadar abu 3,21% (bk), protein 24,47% (bk), karbohidrat 69,31% (bk), vitamin B12 131,74 ppm dan serat pangan sebesar 19,26%. Hasil uji sensori menunjukkan bahwa panelis menyukai warna dan tekstur dari kacang hijau instan.

 

Physicochemical and Sensory Characteristics of Instant Mung Beans with Freezing Technology.

Mung beans have a very hard texture that requires a long cooking time. Instant mung beans are expected to be a solution because they can reduce the cooking time to be shorter. This research aims to obtain the optimum temperature and freezing time to produce good instant mung beans. The study consisted of two stages, the first stage was to determine the optimal soaking and cooking time process, and the second stage was to determine the effect of freezing temperature and duration on the physicochemical characteristics of instant mung beans. The experiment was used as a Randomized Complete Design (CRD) with treatments of freezing temperature (-4, -12, and -20°C) and duration (8, 16, and 24 hours), with three replications. The results showed that the optimal process in the production of instant mung beans was by soaking of 5% sodium citrate for 3 hours and cooking with 10.29 Psi and 110°C of temperature, for 3 minutes. The temperature of freezing and duration were significantly different for the texture, the number of broken seeds, cooking time, water content, protein, and carbohydrate (p<0.01), while bulk density and ash content were not significant (p<0.01). The best temperature and freezing time for instant mung bean was -4°C for 24 hours. Characteristics of instant mung bean produced were cooking time of 7.4 minutes, the number of broken seeds of 10.47%, the hardness of 125.3 g/f, and a density of 0.68 g/ ml. These product contain of water 6.67%, ash 3.21% (dB), protein 24.47% (dB), carbohydrate 69.31% (dB), vitamin B12 131.74 ppm and dietary fiber 19.26%. The sensory characteristics showed that panelists liked the color and texture of instant mung beans.

Keywords


kacang hijau; proses instanisasi; karakteristik; fisikokimia; mung beans; instanization processed; characteristics; physicochemical.

Full Text:

PDF


DOI: http://dx.doi.org/10.21082/jpasca.v17n1.2020.37-47


POTENSI ANTIOKSIDAN BIJI DAN DAUN KACANG HIJAU (VIGNA RADIATE L.) DAN STUDI KORELASINYA DENGAN KADAR FLAVONOID TOTAL

Nanang Fakhrudin, Nimas Ayu Kurniailla, Kahfi Nur Fatimah

Abstract


Biji dan daun kacang hijau (KH) mengandung senyawa flavonoid sebagai antioksidan yang bermanfaat bagi kesehatan. KH dapat diekstrasi dengan air dan etanol menghasilkan ekstrak kaya flavonoid untuk bahan baku produk suplemen kesehatan dan obat tradisional. Penelitian bertujuan membandingkan potensi antioksidan dari biji dan daun KH, menganalisis kandungan flavonoid dan korelasinya dengan potensi antioksidan. Biji dan daun KH diekstraksi dengan air dan etanol masing-masing menggunakan metode dekokta dan maserasi. Potensi antioksidan ekstrak dievaluasi dengan metode FRAP menggunakan trolox sebagai pembanding, dan nilainya dinyatakan sebagai ekuivalensi terhadap trolox per gram ekstrak. Kadar flavonoid total ditetapkan secara spektrofotometri dengan rutin sebagai pembanding. Analisis kandungan flavonoid ekstrak dilakukan dengan kromatografi lapis tipis. Ekstraksi air biji KH memiliki potensi antioksidan 69,65±10,89 µmol TE/g, lebih tinggi dari daunnya 40,52±3,33µmol TE/g. Pada ekstraksi dengan etanol, potensi antioksidan biji KH lebih besar daripada daunnya (131,50±12,77µmol TE/g dibanding 9,37±0,42 µmol TE/g). Ekstrak air biji dan daun KH masing-masing memiliki kadar flavonoid total 2,98±0,03 dan 2,64±0,29 %, sedangkan ekstrak etanolnya masing- masing sebesar 4,71±0,72 dan 1,06±0,16 %. Kadar flavonoid ekstrak sebanding dengan potensi antioksidannya. Vitexin dan rutin merupakan senyawa flavonoid utama dalam biji dan daun KH. Daun KH juga memiliki potensi antioksidan yang cukup kuat dan kaya akan senyawa flavonoid.

 

Antioxidant Potency of Mung Bean (Vigna radiate L) Seed and Leaf and Its Correlation with The Total Flavonoid Content.

Mug Bean (MB) seeds dan leaves contain flavonoids with promising antioxidant activity. MB can be extracted with water and ethanol to yield flavonoid-enriched extract for health supplement and traditional medicine products raw material. This study aimed to compare the antioxidant potency of MB seed and leaf, and to analyze the flavonoid content and its correlation with antioxidant potency. MB seed and leaf were extracted with water and ethanol using decocta and maceration, respectively. The antioxidant potency of the extracts was evaluated by the FRAP method using Trolox as a reference control. The antioxidant potency was expressed as Trolox equivalent per gram of extract. The total flavonoid contents were determined spectrophotometrically with Rutin as a reference compound. Analysis of flavonoid component in the extracts was done by thin layer chromatography. The water extracts of MB seeds and leaves demonstrated antioxidant potency of 69.65±10.89 and 40.52±3.33 µm TE/g, whereas the ethanol extracts were 131.50±12.77 and 9.37±0.42 µmol TE/g, respectively. The water extracts of MB seeds and leaves have total flavonoid content of 2.98±0.03 and 2.64±0.29 %, whereas the ethanol extracts were 4.71±0.72 and 1.06±0.16 %, respectively. We found that the total flavonoid content is proportional with the antioxidant potency. Vitexin and Rutin are the main flavonoids in MB. MB leaves also showed a powerful antioxidant potency and are rich of flavonoids.

Keywords


Kacang hijau; Kromatografi Lapis Tipis; Mung bean; FRAP; Rutin; Vitexin; Thin Layer Chromatography.

Full Text:

PDF


DOI: http://dx.doi.org/10.21082/jpasca.v17n1.2020.48-58


PENGARUH PENGGUNAAN PENGENTAL TERHADAP KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA KEJU MOZARELLA SUSU SAPI

Sri Usmiati, nFN Abubakar, Azmier Adieb

Abstract


Saat ini penggunaan keju mozarella di Indonesia berkembang pesat. Sejumlah titik kritis menentukan mutu mozarella, antara lain total padatan susu yang tinggi, rennet yang aktif, proses curdling yang baik, mild temperatur saat peregangan/pemuluran (58-65°C). Jika tidak terpenuhi maka mutu mozarella yang dihasilkan kurang baik, antara lain sifat regang yang rendah yang berakibat terhadap kurangnya daya leleh keju. Diperlukan aplikasi bahan pengental berupa hidrokoloid untuk memperbaiki sensori, yaitu memperbaiki sifat kemuluran atau daya leleh mozarella yang lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisikokimia keju mozarella dengan penambahan hidrokoloid sebagai bahan pengental. Penelitian didesain menggunakan rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan penambahan hidrokoloid dan satu kontrol tanpa bahan pengental, yaitu: P0 (kontrol); P1 (gellan gum 0,010%); P2 (xhantan gum 0,010%+ gellan gum 0,010%); P3 (pati jagung/maizena 0,125%); dan P4 (susu skim bubuk 0,125%), masing-masing diulang 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keju mozarella susu sapi dengan perlakuan penambahan pengental berupa hidrokoloid pati jagung (maizena) merupakan keju yang memiliki karakteristik terbaik dengan kadar lemak yang cukup baik (12,08%), tingkat hardness terendah (150,13 g/mm2), lelehan keju yang lembut, serta kecerahan warna yang baik (L= 88,99).

 

The Effect Of Thickener On Characteristics Of Cow Milk Mozarella Cheese.

Nowaday, the use of mozzarella cheese is growing rapidly in Indonesia. A number of critical points determine the quality of mozzarella, including high milk total solids, active rennet, good curdling process, mild temperature during stretching (58-65°C). The quality of the mozzarella produced is not good, among others lack of stretching ability causes low melting ability if the critical points are not fulfilled. The application of a hydrocolloid as thickener is needed to improve the sensory that was better stretching ability of mozzarella. The aim of study was to determine the mozzarella physicochemical characteristics use the addition of hydrocolloid as thickener. The study was designed using a completely randomized design with 4 treatments for addition of hydrocolloid and control without thickener, namely: P0 (control); P1 (gellan gum 0.010%); P2 (0.010% xhantan gum + 0.010% gellan gum); P3 (corn starch 0.125%); and P4 (powdered skim milk 0.125%), each repeated 3 times. The results showed that cow milk mozzarella cheese with the treatment of corn starch (maize starch) as thickener was the best cheese with good fat content (12.08%), the lowest hardness level (150.13 g/mm2), smoothy melted cheese and good colour brightness (L value of 88.99).

Keywords


pengental; karakteristik; keju mozzarella; susu sapi; thickeners; characteristic; mozarella cheese; cow milk.

Full Text:

PDF


DOI: http://dx.doi.org/10.21082/jpasca.v17n1.2020.59-67
      Whatsapp