Berita Terkini
Balitbangtan Kembangkan Potensi Olahan Porang di Blitar dan Kediri

31 Agu 2021        26
Para petani dan kelompok wanita tani di Kabupaten Blitar dan Kediri, Jawa Timur, dilatih untuk mendapatkan penghasilan lebih dari penanganan dan pengolahan porang, cabai, serta bawang merah di tengah masa pemulihan ekonomi saat pandemi covid-19 ini..
 
Badan Litbang Pertanian melalui Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian bersinergi dengan Komisi IV DPR RI  dalam kegiatan Bimbingan Teknis Teknologi Pascapanen Pertanian sebagai upaya mengembangkan potensi olahan pertanian Kabupaten Blitar dan Kediri.
 
 
“Pertanian di Kabupaten Blitar dan Kediri berkembang dengan luar biasa. Dahulu masih sebatas komoditas tanaman pangan seperti singkong dan jagung, kini telah merambah ke komoditas hortikultura cabai, bawang merah, melon, durian, alpukat dan sayuran serta porang”, kata Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kab. Blitar Wawan Widianto. 
 
Wawan mengungkapkan melon bahkan dibudidayakan secara swadaya menggunakan green house dan menerapkan pertanian organik di Kecamatan Wates dan Binangun. Petani melon sudah merasakan keuntungan dengan menerapkan hal tersebut. Saat ini sudah terdapat 100 green house. Dengan meningkatnya produksi berbagai komoditas pertanian ini, Blitar sangat memerlukan pendampingan budidaya, penanganan pascapanen dan pemasaran dari berbagai pihak.
 
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Kediri, Anang Widodo membenarkan pernyataan Wawan, “Pertanian di Kabupaten kami (Kediri) berkembang sangat pesat terutama pada komoditas porang, bawang dan cabai. Sampai saat ini terdapat lebih dari 70.000 hektar lahan bawang merah dan lebih dari 25.000 hektar lahan tanaman cabai merah, ini masih akan kami perluas”.
 
Anang menambahkan, “kami sangat berterima kasih kepada Balitbangtan melalui BB Pascapanen karena mau melatih petani dan KWT kami untuk dapat mengolah produk unggulan tersebut sehingga dapat meningkatkan nilai tambah dan daya saingnya”. 
 
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Anggia Erma Rini menyampaikan agar petani memanfaatkan teknologi penanganan dan pengolahan pertanian yang telah dihasilkan Balitbangtan.
 
"Dengan menerapkan teknologi yang tepat dan sederhana, sangat penting terutama saat panen melimpah, kita (petani) merugi karena harga jual turun. Teknologi ini sangat membantu, salah satunya untuk memperpanjang masa simpan, sehingga menambah nilai jual hasil panen," tambahnya lagi.
 
Sementara itu, Kepala Badan Litbang Pertanian Kementan Fadjry Jufry mengemukakan pihaknya senantiasa melakukan terobosan dengan inovasi teknologi yang tidak hanya diaplikasikan oleh industri, namun terpenting dapat diaplikasikan oleh para petani secara mudah dan sederhana, agar hasil pascapanen pertaniannya bernilai tambah dan berdaya saing.
 
"Porang, bawang merah, dan cabai merupakan contoh komoditas yang “seksi”. komoditas porang saat ini dengan harga yang tinggi memberikan keuntungan yang lebih bagi petani. Namun kita perlu memberikan sentuhan nilai tambah melalui pengolahan. Ini juga untuk mengantisipasi bila terjadi over suplai di kemudian hari”.   
 
Fadjry menambahkan, “Sedangkan untuk bawang merah dan cabai harganya berfluktuasi. Saat harga turun cabai bisa di olah dalam bentuk bawang merah iris kering, pasta bawang, cabai bubuk, blok cabai, minyak cabai, minyak bawang dan berbagai macam lainnya. Bisa untuk konsumsi sendiri atau dijual. Era saat ini pola konsumsi dituntut semakin praktis, dengan olahan cabai dan bawang, dapat mudah ditambahkan ke makanan untuk memberi cita rasa seperti minyak bawang ataupun cabai”.
 
 
Seperti kita ketahui, porang yang kini tengah populer sebagai komoditas ekspor ini menjadi salah satu andalan penerimaan devisa negara. Presiden Joko Widodo mendorong pengembangan porang sebagai pangan masa depan dan menekankan pentingnya pascapanen porang. Porang yang diekspor tidak lagi  dalam bentuk segar sehingga pengolahan porang bersifat wajib. Hal ini tentunya memberikan nilai tambah bagi pelaku usaha porang di dalam negeri.
 
Kepala Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian, Prayudi Syamsuri menyampaikan sedang mengembangkan teknologi olahan porang yang mampu mempertahankan kandungan glukomanan dan  mengurangi kandungan oksalat. Reduksi oksalat dapat mengurangi gatal pada lidah dan tenggorokan, bahkan jika dikonsumsi jangka panjang oksalat berbahaya bagi kesehatan ginjal.
 
Ia menambahkan porang yang telah diproses menjadi
 tepung, dicampur dengan tepung lokal lainnya dapat diolah menjadi berasan, pasta, mi dan cake. Olahan ini bagus dijadikan produk diet dan pangan sehat.
 
Nur, salah satu peserta bimtek mengungkapkan apresiasinya kepada BB Pascapanen yang telah melaksanakan bimtek ini “Kami sangat mengapresiasi dengan diadakannya bimtek ini, wawasan kami makin bertambah dan kami akan menerapkannya di daerah kami”. Ujar Nur
 
Acara bimbingan teknis teknologi pascapanen diadakan dua hari yaitu tanggal 28 Agustus 2021 dan 30 Agustus 2021 di Kabupaten Blitar dan Kabupaten Kediri serta diikuti oleh petani dan kelompok wanita tani dari berbagai kecamatan dikedua Kabupaten tersebut. Dalam acara itu juga dilakukan penyerahan secara simbolis bantuan alat pengolahan porang, bawang merah dan cabai kepada sepuluh kelompok tani senilai 35 juta rupiah.
      Whatsapp